Kamis, 21 November 2013

Pengenalan Citra

PENGENALAN CITRA SATELIT

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan citra non foto (non-photographyc image). Citra foto sering disebut sebagai foto udara (aerial photograph), sedangkan citra non foto diklasifikasikan berdasar spectrum yang digunakan berkaitan dengan gelombang mikro, termal dan / atau wahana yang digunakan (Satelit).

A. Citra Foto
Foto udara sebagai salah satu jenis citra yang direkam melalui survei udara dengan pemotretan menggunakan pesawat pada suatu daerah tertentu berdasarkan aturan fotogrametris tertentu (Gambar 11.1). Pada foto udara biasanya adalah pemotretan
tegak (vertikal), yaitu pemotretan objek dengan sumbu kamera udara yang sejajar dengan arah gravitasi (Wolf, 1974).













Gambar 11.1 Contoh lembar citra foto udara

Fotogrametri adalah suatu  seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu obyek serta keadaan di sekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Perekaman foto udara juga memiliki skala. Pengertian detilnya adalah melakukan perbandingan jarak pada foto udara dengan jarak di permukaan bumi. Rumus yang digunakan adalah S = f/H, dimana keterangan S yaitu skala, f yaitu panjang fokus lensa/kamera, dan H adalah tinggi terbang.

Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Klasifikasi citra foto dapat dibedakan atas beberapa hal, yaitu:
1. Spektrum Elektromagnetik.
Citra foto dapat dibedakan atas:
a) Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa objek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, dan batuan kapur.

b) Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 - 0,56 mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
c) Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air permukaan.
d) Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang 0,9-1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
e) Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.

2. Sumbu Kamera
Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu:
a) Foto foto tegak (ortho photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
b) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar. Tapi bila sudut condongnya masih berkisar antara 1 - 4 derajat, maka foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto tegak. Foto condong masih dibedakan lagi menjadi:
i. Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada foto.
ii. Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila pada foto tampak cakrawalanya.

Penginderaan jauh menggunakan foto udara memanfaatkan teknik stereoskopis untuk mendapatkan informasi turunan dari serangkaian data foto udara, seperti ketinggian, jarak, volume dan lain-lain. Alat yang mampu menghasilkan pandangan stereoskopispada foto udara bertampalan yaitu stereoskop (Gambar 12.2).
Penggunaan stereoskop pada foto udara memberikan pandangan gambar tiga dimensi yang dapat diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut. Pandangan tiga dimensi muncul karena perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda. Dua mata pengamat mendapatkan informasi dari gambar yang berada dibawahnya. Foto udara dapat rnemberikan pandangan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis harus memenuhi syarat berikut:
1. Foto udara tersebut memiliki tampalan.
2. Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu  jalur terbang yang sama.
3. Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama.












Gambar 11.2 Stereoskop cermin

Analisa citra foto udara adalah pengenalan dan interpretasi obyek, sebanding dengan interpretasi peta topografi. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara ditentukan oleh kondisi sebagai berikut:
1. Banyak berlatih dalam melakukan interpretasi foto udara.
2. Kemampuan mengenali objek.
3. Mempunyai foto udara dengan kualitas baik.

Langkah-langkah dalam interpretasi foto udara yaitu:
1. Menyiapkan citra penginderaan jauh (citra foto udara).
2. Mengamati karakteristik citra tersebut dalam merekam obyek muka bumi dengan menggunakan stereoskop.
3. Mengenali obyek bentang budaya dan obyek bentang alam (pengamatan obyek sama dengan menganalisa peta topografi).
4. Produk interpretasi disajikan dalam kertas/plastik transparan.
5. Berikan deskripsri atas hasil interpretasi foto udara.

     lnterpretasi foto udara dilakukan secara konvensional memerlukan stereoskop dan paralaks bar. Delapan unsur yang perlu diperhatikan dalam melakukan interpretasi foto udara adalah sebagai berikut:
1. Rona atau warna
Gambaran tingkat kegelapan atau kecerahan atas tingkat kecerahan obyek yang terekam pada foto udara. Rona dinyatakan dalam cerah, kelabu, kelabu gelap, dan gelap.
2. Bentuk
Variabel yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek. Dinyatakan dalam bentuk bulat, empat segi panjang, segitiga, dan sebagainya.
3. Ukuran
Atribut obyek pada foto udara yang antara lain berupa jarak, luas, kemiringan, isi dan tinggi obyek.
4. Tekstur
Frekuensi perubahan rona pada foto udara, atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. Tekstur dinyatakan dengan tingkatan kasar, sedang, dan halus.
5. Pola
Pola atau susunan keruangan memberikan ciri bagi obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah lainnya. Pola dinyatakan sebagai kompak, teratur, tidak teratur, atau agak teratur (campuran).
6. Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang ada di daerah yang gelap. Bayangan merupakan kunci interpretasi bagi beberapa obyek yang justru lebih mudah dikenali dan lebih nampak dari bayangan, misalnya untuk jenis vegetasi.
7. Situs
Situs bukan merupakan ciri obyek, melainkan dalam kaitan dengan lingkungan sekitarnya, dimana lebih berfokus pada letak obyek terhadap lingkungan sekitarnya. Misalnya situs pohon kopi terletak di tanah yang kering karena tanaman kopi memerlukan pengaturan air yang baik.
8. Asosiasi
Keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain. Contohnya stasiun kereta api berasosiasi dengan rel kereta api dan deretan gerbong kereta api.

B. Citra Non Foto
     Citra non foto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra non foto dibedakan atas:
1. Spektrum elektromagnetik
Citra non foto dapat diklasifikasikan berdasarkan spektrum elektromagnetik dibedakan atas:
a) Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum infra merah thermal. Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan atas beda suhu obyek dan daya pancarnya pada citra tercerrnin dengan beda rona atau beda warnanya.
b) Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah.
2. Sensor
Citra non foto berdasarkan sensornya dapat dibagi menjadi:
a) Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan sensor tunggal, yang salurannya lebar.
b) Citra multispektral, yakni cerita yang dibuat dengan sensor jamak, tetapi salurannya sempit, yang terdiri dari: Citra RBV (Return Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film dan prosesnya non fotografik.
c) Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat menggunakan spektrum tampak maupun spektrum infra merah thermal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.
3. Wahana
Citra non foto dapat dibagi atas dasar wahana yang digunakan, yaitu sebagai berikut:
a) Citra dirgantara (Airbone image), yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara). Contoh: Citra lnfra Merah Thermal, Citra Radar dan Citra MSS. Citra dirgantara ini jarang digunakan.
b) Citra Satelit (Satellite/Spaceborne lmage), yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi atas penggunaannya, yakni: Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh: Citra Satelit Viking (AS), Citra Satelit Venera (Rusia).
c) Citra Satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra Meteor (Rusia).
d) Citra Satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: Citra Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan Citra SPOT (Perancis).
e) Citra Satelit untuk penginderaan laut. Contoh: Citra Seasat (AS), Citra MOS (Jepang).