PENGENALAN CITRA SATELIT
Citra
dapat dibedakan atas citra foto (photographyc
image) atau foto udara dan citra non foto (non-photographyc image). Citra foto sering disebut sebagai foto
udara (aerial photograph), sedangkan
citra non foto diklasifikasikan berdasar spectrum yang digunakan berkaitan
dengan gelombang mikro, termal dan / atau wahana yang digunakan (Satelit).
A.
Citra Foto
Foto
udara sebagai salah satu jenis citra yang direkam melalui survei udara dengan
pemotretan menggunakan pesawat pada suatu daerah tertentu berdasarkan aturan
fotogrametris tertentu (Gambar 11.1). Pada foto udara biasanya adalah
pemotretan
tegak
(vertikal), yaitu pemotretan objek dengan sumbu kamera udara yang sejajar
dengan arah gravitasi (Wolf, 1974).

Gambar 11.1 Contoh
lembar citra foto udara
Fotogrametri adalah suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk
memperoleh data dan informasi tentang suatu obyek serta keadaan di sekitarnya
melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan
fotografis (hasil pemotretan). Perekaman foto udara juga memiliki skala.
Pengertian detilnya adalah melakukan perbandingan jarak pada foto udara dengan
jarak di permukaan bumi. Rumus yang digunakan adalah S = f/H, dimana keterangan S
yaitu skala, f yaitu panjang
fokus lensa/kamera, dan H adalah
tinggi terbang.
Citra foto adalah gambar yang dihasilkan
dengan menggunakan sensor kamera. Klasifikasi citra foto dapat dibedakan atas
beberapa hal, yaitu:
1.
Spektrum Elektromagnetik.
Citra
foto dapat dibedakan atas:
a) Foto ultra violet yaitu foto yang
dibuat dengan menggunakan spektrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang
0,29 mikrometer. Cirinya tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi
untuk beberapa objek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang
besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi tumpahan minyak di laut,
membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, dan batuan kapur.
b) Foto ortokromatik yaitu foto yang
dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian
hijau (0,4 - 0,56 mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini
bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di bawah
permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik untuk survey
vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
c) Foto pankromatik yaitu foto yang
menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu.
Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna
obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi pencemaran air,
kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air permukaan.
d) Foto infra merah
asli (true infrared photo), yaitu
foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang
gelombang 0,9-1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat mencapai
bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah tidak ditentukan warna
daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk mendeteksi berbagai jenis
tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
e) Foto infra merah
modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian
spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. Dalam foto ini
obyek tidak segelap dengan film infra merah sebenarnya, sehingga dapat
dibedakan dengan air.
2. Sumbu Kamera
Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan
arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu:
a) Foto foto tegak (ortho photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak
lurus terhadap permukaan bumi.
b) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang
dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan
bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar. Tapi bila sudut
condongnya masih berkisar antara 1 - 4 derajat, maka foto yang dihasilkan masih
digolongkan sebagai foto tegak. Foto condong masih dibedakan lagi menjadi:
i. Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila
cakrawala tidak tergambar pada foto.
ii. Foto sangat condong
(high oblique photograph), yaitu
apabila pada foto tampak cakrawalanya.
Penginderaan jauh
menggunakan foto udara memanfaatkan teknik stereoskopis untuk mendapatkan
informasi turunan dari serangkaian data foto udara, seperti ketinggian, jarak,
volume dan lain-lain. Alat yang mampu menghasilkan pandangan stereoskopispada
foto udara bertampalan yaitu stereoskop (Gambar 12.2).
Penggunaan
stereoskop pada foto udara memberikan pandangan gambar tiga dimensi yang dapat
diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut. Pandangan tiga dimensi muncul
karena perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda. Dua mata
pengamat mendapatkan informasi dari gambar yang berada dibawahnya. Foto udara
dapat rnemberikan pandangan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis
harus memenuhi syarat berikut:
1. Foto udara tersebut memiliki
tampalan.
2. Gambar dari
foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu jalur
terbang yang sama.
3. Foto yang diamati hendaklah
memiliki skala yang sama.

Gambar
11.2 Stereoskop cermin
Analisa citra
foto udara adalah pengenalan dan interpretasi obyek, sebanding dengan
interpretasi peta topografi. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara
ditentukan oleh kondisi sebagai berikut:
1. Banyak berlatih dalam melakukan
interpretasi foto udara.
2. Kemampuan mengenali objek.
3. Mempunyai foto udara dengan
kualitas baik.
Langkah-langkah dalam interpretasi foto
udara yaitu:
1. Menyiapkan citra penginderaan
jauh (citra foto udara).
2. Mengamati
karakteristik citra tersebut dalam merekam obyek muka bumi dengan menggunakan
stereoskop.
3. Mengenali
obyek bentang budaya dan obyek bentang alam (pengamatan obyek sama dengan
menganalisa peta topografi).
4. Produk interpretasi disajikan
dalam kertas/plastik transparan.
5. Berikan deskripsri atas hasil
interpretasi foto udara.
lnterpretasi
foto udara dilakukan secara konvensional memerlukan stereoskop dan paralaks bar.
Delapan unsur yang perlu diperhatikan dalam melakukan interpretasi foto udara
adalah sebagai berikut:
1. Rona atau warna
Gambaran tingkat kegelapan atau
kecerahan atas tingkat kecerahan obyek yang terekam pada foto udara. Rona
dinyatakan dalam cerah, kelabu, kelabu gelap, dan gelap.
2. Bentuk
Variabel yang memberikan
konfigurasi atau kerangka suatu obyek. Dinyatakan dalam bentuk bulat, empat
segi panjang, segitiga, dan sebagainya.
3. Ukuran
Atribut obyek pada foto udara yang
antara lain berupa jarak, luas, kemiringan, isi dan tinggi obyek.
4. Tekstur
Frekuensi perubahan rona pada foto
udara, atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan
secara individual. Tekstur dinyatakan dengan tingkatan kasar, sedang, dan
halus.
5. Pola
Pola atau susunan keruangan
memberikan ciri bagi obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah
lainnya. Pola dinyatakan sebagai kompak, teratur, tidak teratur, atau agak
teratur (campuran).
6. Bayangan
Bayangan bersifat
menyembunyikan detail atau obyek yang ada di daerah yang gelap. Bayangan
merupakan kunci interpretasi bagi beberapa obyek yang justru lebih mudah
dikenali dan lebih nampak dari bayangan, misalnya untuk jenis vegetasi.
7. Situs
Situs bukan merupakan ciri obyek,
melainkan dalam kaitan dengan lingkungan sekitarnya, dimana lebih berfokus pada
letak obyek terhadap lingkungan sekitarnya. Misalnya situs pohon kopi terletak
di tanah yang kering karena tanaman kopi memerlukan pengaturan air yang baik.
8. Asosiasi
Keterkaitan antara obyek yang satu
dengan obyek yang lain. Contohnya stasiun kereta api berasosiasi dengan rel
kereta api dan deretan gerbong kereta api.
B. Citra Non Foto
Citra non foto
adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra non foto
dibedakan atas:
1. Spektrum elektromagnetik
Citra non foto dapat
diklasifikasikan berdasarkan spektrum elektromagnetik dibedakan atas:
a) Citra infra
merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum infra merah thermal.
Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan atas beda suhu obyek dan daya
pancarnya pada citra tercerrnin dengan beda rona atau beda warnanya.
b) Citra radar
dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum gelombang
mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu
dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan dengan
sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah.
2. Sensor
Citra non foto berdasarkan
sensornya dapat dibagi menjadi:
a) Citra tunggal, yakni citra yang
dibuat dengan sensor tunggal, yang salurannya lebar.
b) Citra
multispektral, yakni cerita yang dibuat dengan sensor jamak, tetapi salurannya
sempit, yang terdiri dari: Citra RBV (Return
Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk
foto karena detektornya bukan film dan prosesnya non fotografik.
c) Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat
menggunakan spektrum tampak maupun spektrum infra merah thermal. Citra ini
dapat dibuat dari pesawat udara.
3. Wahana
Citra non foto dapat dibagi atas
dasar wahana yang digunakan, yaitu sebagai berikut:
a) Citra
dirgantara (Airbone image), yaitu
citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara). Contoh:
Citra lnfra Merah Thermal, Citra Radar dan Citra MSS. Citra dirgantara ini
jarang digunakan.
b) Citra Satelit
(Satellite/Spaceborne lmage), yaitu
citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi
atas penggunaannya, yakni: Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh:
Citra Satelit Viking (AS), Citra Satelit Venera (Rusia).
c) Citra Satelit
untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra Meteor (Rusia).
d) Citra Satelit
untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: Citra Landsat (AS), Citra Soyuz
(Rusia) dan Citra SPOT (Perancis).
e) Citra Satelit
untuk penginderaan laut. Contoh: Citra Seasat (AS), Citra MOS (Jepang).